KabarSumatra.com — Keindahan bonsai tak sekadar diukur dari bentuk yang indah, tetapi dari seberapa setia ia meniru alam. Filosofi itulah yang menjadi ruh utama dalam Pameran Nasional Pesona Bonsai Homeland of Melayu II, di mana setiap miniatur pohon dinilai lewat proses seleksi yang ketat dan sarat makna.
Dalam pameran tersebut, bonsai unggulan dinilai berdasarkan gerak dasar, kesan usia, serta kesesuaian dengan karakter alaminya. Setiap lekuk batang, arah cabang, hingga kerimbunan daun mencerminkan dialog panjang antara manusia dan tumbuhan.
Ketua Dewan Juri, Kuswanda, menegaskan bahwa prinsip utama penilaian bonsai tetap berpijak pada alam. Bonsai yang baik bukan hasil pembentukan sesuka hati, melainkan representasi pohon alami dalam ukuran mini.
“Pada dasarnya penilaian itu harus menyerupai pohon yang ada di alam. Tetapi bagaimana pohon tersebut bisa menjadi miniatur di dalam pot,” kata Kuswanda, di Halaman MTQ Pekanbaru, Sabtu (13/12/2025).
Ia menjelaskan, keindahan bonsai terletak pada kesesuaian anatomi. Setiap elemen harus mengikuti sifat dasar tanaman, mulai dari struktur batang hingga susunan cabang yang proporsional.
“Anatominya harus mengikuti sifat tanaman. Tetap kita atur cabang pertama, cabang kedua, dan berikutnya. Gerak dasarnya dilihat dari bonsai itu sendiri, jadi tidak bisa sembarang asal tanam saja,” jelasnya.
Menurut Kuswanda, karakter setiap jenis pohon turut memengaruhi kesan visual bonsai. Ada jenis yang cepat menampilkan kesan tua, sementara yang lain tetap terlihat muda meski daunnya rimbun.
“Jenis pohon itu ada yang cepat terkesan tua. Ada juga yang terlihat muda terus, meski cepat rimbun daunnya. Kalau santigi, memang dari alamnya sudah tua, batangnya bagus,” tambahnya.
Pengalamannya mengikuti pelatihan bonsai di Jepang turut memperkaya sudut pandangnya dalam menilai. Di negara asal seni bonsai tersebut, usia dan daya tahan pohon menjadi tolok ukur penting.
“Di Jepang, bonsai yang paling baik itu umurnya di atas 50 tahun dan tetap hidup. Bahkan ada bonsai yang berusia 300 sampai 500 tahun dan tetap terawat di dalam pot,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pameran Nasional Pesona Bonsai Homeland of Melayu II, Akbar Prabowo, mengatakan penilaian dilakukan secara berjenjang berdasarkan kelas yang telah ditetapkan. Dari seluruh kategori, satu bonsai dinilai paling menonjol karena mampu menyatukan unsur usia, keserasian, dan karakter alami secara seimbang.
“Di sini kami membagi dalam empat kelas, yakni kelas bahan, pratama, madya, dan utama. Terbaik dari yang terbaik adalah bonsai anting putri milik peserta dari Jakarta. Dinilai dari tingkat kematangan, tingkat ketuaan, keserasian, termasuk gerak dasar pokoknya,” ujarnya.
Menariknya, jenis anting putri juga mendominasi kategori pratama dan madya, mencerminkan kuatnya budidaya bonsai jenis tersebut di Provinsi Riau.
“Untuk kelas pratama dan madya, terbaiknya juga bonsai spesies anting putri. Di Riau ini memang banyak pembudidaya anting putri,” jelasnya.
Anting putri dikenal memiliki bunga putih menggantung yang khas, mudah dibentuk, serta adaptif terhadap iklim tropis. Meski begitu, pameran ini tak hanya menampilkan satu jenis bonsai.
Beragam spesies lain turut dipamerkan, mulai dari jeruk kingkit, kimeng, sancang, arjuna, hingga elegan, memperkaya perspektif pengunjung tentang luasnya kemungkinan dalam seni bonsai.
“Kalau bicara seni dan estetika, tentu itu soal selera. Tetapi pada dasarnya miniatur pohon ini harus tetap sesuai dengan bentuk alaminya,” tambah Akbar.
Ia menegaskan, nilai tertinggi bonsai justru terletak pada minimnya campur tangan manusia. Semakin alami tampilannya, semakin tinggi pula nilai seni yang dihasilkan.
“Semakin bagus bonsai itu adalah yang sedikit campur tangan manusianya. Dalam pameran ini, rata-rata bonsai yang ditampilkan sudah berusia sekitar 30 tahun,” pungkasnya.
