KabarSumatra.com— Sumatera Selatan tidak hanya terkenal dengan pempek. Di daerah ini masih banyak kuliner tradisional yang memiliki sejarah panjang dan cita rasa khas, salah satunya adalah gulo puan.
Makanan tradisional berbahan dasar susu kerbau ini dikenal sebagai sajian istimewa yang sudah ada sejak masa Kesultanan Palembang.
Meski namanya belum sepopuler pempek atau tekwan, gulo puan tetap menjadi bagian dari warisan kuliner masyarakat Sumatera Selatan yang patut dilestarikan.
Apa Itu Gulo Puan?
Gulo puan merupakan makanan tradisional yang terbuat dari campuran susu kerbau dan gula.
Dalam bahasa setempat, kata “gulo” berarti gula, sedangkan “puan” merujuk pada lapisan krim atau lemak yang terbentuk dari susu kerbau.
Kuliner ini memiliki tekstur lembut menyerupai selai dengan rasa manis yang khas.
Biasanya gulo puan dinikmati sebagai pendamping roti, kue tradisional, atau dimakan langsung.
Gulo puan banyak ditemukan di wilayah Kabupaten Ogan Ilir dan beberapa daerah sekitar Palembang yang sejak dahulu dikenal sebagai sentra peternakan kerbau rawa.
Sejarah Gulo Puan
Gulo puan dipercaya telah dikenal masyarakat Sumatera Selatan sejak ratusan tahun lalu.
Makanan ini berawal dari kebiasaan masyarakat yang memanfaatkan susu kerbau rawa yang melimpah di daerah perairan dan rawa-rawa.
Pada masa lalu, gulo puan menjadi hidangan istimewa yang sering disajikan untuk keluarga bangsawan maupun tamu penting.
Karena bahan bakunya berasal dari susu kerbau yang tidak selalu mudah didapat, makanan ini memiliki nilai tersendiri di tengah masyarakat.
Cara Pembuatan Gulo Puan
Proses pembuatan gulo puan tergolong sederhana, tetapi membutuhkan kesabaran.
Susu kerbau segar dimasak dalam waktu cukup lama hingga mengental.
Setelah itu ditambahkan gula dan terus diaduk sampai membentuk tekstur lembut menyerupai karamel atau selai.
Proses memasak biasanya dilakukan menggunakan api kecil agar susu tidak pecah dan cita rasanya tetap terjaga.
Dari proses inilah muncul warna kecokelatan yang menjadi ciri khas gulo puan.
Cita Rasa yang Khas
Salah satu keunikan gulo puan terletak pada rasanya yang berbeda dengan selai pada umumnya.
Perpaduan susu kerbau dan gula menghasilkan rasa manis gurih yang lembut di lidah.
Aroma susu yang kuat juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta kuliner tradisional.
Karena menggunakan bahan alami tanpa banyak campuran, cita rasa gulo puan terasa autentik dan khas, layaknya aroma susu dari kerbau.
Mulai Sulit Ditemukan
Saat ini gulo puan termasuk kuliner yang cukup langka.
Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya jumlah peternak kerbau rawa yang menjadi sumber bahan baku utama.
Selain itu, proses pembuatannya yang membutuhkan waktu cukup lama membuat tidak banyak masyarakat yang masih memproduksinya secara rutin.
Meski demikian, beberapa pelaku usaha dan kelompok masyarakat masih berupaya mempertahankan keberadaan gulo puan sebagai warisan kuliner daerah.
Produsen terdekat yang mengolah susu kerbau menjadi Gulo Puan dapat anda temukan di daerah Kecamatan Rambutan (Banyuasin).
Dan Kecamatan Pampangan (Ogan Komering Ilir) yang menjadi pusat produksinya.
