KabarSumatra.com— Palembang tidak hanya dikenal dengan kuliner pempek atau Jembatan Ampera.
Kota ini juga memiliki beragam tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun, salah satunya adalah Ngobeng.
Sayangnya, tradisi yang dulu hampir selalu hadir dalam berbagai acara hajatan ini kini mulai jarang ditemui.
Bahkan, tak sedikit generasi muda yang belum mengenal istilah ngobeng.
Baca Juga :
Meski Bernama Srikaya, Kue Tradisional Khas Palembang Ini Tidak Terbuat dari Buah
Menolak Punah, Perajin Nipah Palembang Setia Merawat Tradisi Anyaman di Era Modern
Lantas, apa sebenarnya tradisi ngobeng? Berikut penjelasannya.
Apa Itu Tradisi Ngobeng?
Ngobeng merupakan tradisi menghidangkan makanan secara bersama-sama dalam berbagai acara, seperti pernikahan, khitanan, syukuran, hingga peringatan hari besar keagamaan.
Dalam tradisi ini, makanan disajikan menggunakan dulang atau nampan besar, kemudian dinikmati bersama oleh para tamu yang duduk melingkar.
Baca Juga :
Lestarikan Warisan Budaya, Feby Deru Ajak Pemuda Sumsel Cintai dan Pahami Filosofi Batik Daerah
Mulai Langka! Ini Gelenak, Kue Legendaris Palembang yang Kaya Cita Rasa Rempah
Bagi masyarakat Palembang, ngobeng bukan sekadar cara menyajikan makanan.
Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan, kekeluargaan, serta semangat gotong royong yang telah hidup sejak lama.
Asal usul budaya Ngobeng
Tradisi ngobeng diperkirakan telah berkembang sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam.
Seiring waktu, tradisi ini berpadu dengan nilai-nilai Islam, terutama kebiasaan makan bersama menggunakan tangan sambil duduk bersila sebagaimana yang dianjurkan dalam sunnah Nabi Muhammad SAW.
Tak hanya dikenal di Kota Palembang, tradisi ini juga masih dapat dijumpai di beberapa wilayah Sumatera Selatan, meski tata cara pelaksanaannya bisa sedikit berbeda sesuai adat dan kebiasaan masyarakat setempat.
Bagaimana Cara Pelaksanaannya?
Dalam tradisi ngobeng, para pemuda biasanya bertugas mengantarkan hidangan secara estafet menuju tempat para tamu.
Cara ini membuat proses penyajian makanan menjadi lebih cepat sekaligus menunjukkan semangat saling membantu.
Satu hidangan umumnya diperuntukkan bagi delapan orang.
Di bagian tengah terdapat dulang berisi nasi putih atau nasi minyak, sementara di sekelilingnya tersaji berbagai lauk atau iwak, seperti malbi, ayam, hingga pentol ikan.
Hidangan tersebut juga dilengkapi pulur, yaitu sayur, sambal, acar, dan buah-buahan.
Semua tamu duduk melingkar dan menikmati hidangan yang sama. Suasana inilah yang menciptakan rasa akrab serta mempererat silaturahmi antarwarga.
Mulai Tergerus Zaman
Di tengah perkembangan zaman, tradisi ngobeng perlahan mulai ditinggalkan.
Banyak penyelenggara acara kini memilih konsep prasmanan karena dianggap lebih praktis dan efisien.
Perubahan tersebut membuat tradisi ngobeng semakin jarang dijumpai.
Akibatnya, banyak generasi muda Palembang yang tidak lagi mengenal tradisi ini, padahal di baliknya tersimpan nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada tamu.
Karena itu, upaya mengenalkan kembali tradisi ngobeng menjadi penting agar warisan budaya khas Palembang ini tetap lestari dan tidak hilang ditelan zaman.
Dengan terus diperkenalkan kepada generasi muda, ngobeng diharapkan tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sumatera Selatan.
Penulis : Marshanda
