KabarSumatra.com— Rumah Ong Boen Tjit atau yang dikenal juga sebagai Rumah Baba Boentjit menjadi salah satu destinasi wisata sejarah.
Tempat bersejarah ini juga menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan.
Berlokasi di Lorong Saudagar Yucing, No 55 RT 050/002, Kelurahan 3-4 Ulu Kota Palembang.
Ada tiga area utama di dalam rumah ini, bagian depan sebagai tempat untuk menerima tamu.
Bagian tengah sebagai Altar Dewa dan Altar Leluhur sebagai tempat peribadatan, dan bagian belakang tempat kediaman pengelola rumah.
Di sini para pengunjung dapat menikmati kuliner, karaoke, hingga menginap dengan konsep homestay di rumah bersejarah tersebut.
Selain itu, jika ingin berkunjung atau hanya sebatas mengabadikan momen saja, pengunjung dapat membayar tiket 10 ribu per-orang.
Sekarang rumah ini dihuni dan dirawat oleh keturunan Baba Boentjit kedelapan.
Dan Pemerintah Kota Palembang sudah menetapkan bangunan ini sebagai cagar budaya.
Pengelola Rumah Ong Boen Tjit, Anik Srimayanti (53), mengatakan sejauh ini pengunjung yang datang baik wisatawan maupun komunitas lokal yang ingin menikmati suasana rumah tradisional sambil berkegiatan bersama.
“Biasanya mereka datang ke sini makan bersama, karaoke, terus menikmati suasana rumah. Ada juga yang mengadakan acara makrab dan menginap di sini,” ujar Anik Srimayanti saat diwawancarai KabarSumatra belum lama ini.
Ia juga mengatakan, pihaknya menyediakan beberapa paket untuk pengunjung.
Mulai dari paket makanan, karaoke, hingga homestay.
Untuk rombongan besar, pengunjung biasanya melakukan reservasi beberapa hari sebelum kedatangan.
“Kalau rombongan biasanya reservasi sekitar tiga hari sebelumnya. Mereka konfirmasi jumlah pengunjung, mau kegiatan apa, dan makanan yang dipilih,” katanya.
Meski demikian, wisatawan tetap diperbolehkan datang langsung tanpa reservasi.
Namun, karena pengelolaan masih dilakukan secara mandiri oleh keluarga, pengunjung disarankan melakukan konfirmasi terlebih dahulu agar dapat menikmati fasilitas dengan maksimal.
Selain menjadi tempat wisata, rumah yang diperkirakan telah berusia sekitar 300 tahun itu juga menjadi sarana edukasi sejarah bagi masyarakat.
Pengunjung dapat melihat langsung bangunan tua yang masih berdiri kokoh dan merasakan suasana rumah tradisional khas Palembang tempo dulu.
Anik berharap Rumah Ong Boen Tjit dapat terus dikenal luas.
Terutama oleh generasi muda yang dinilai mulai kurang tertarik mempelajari sejarah daerah.
“Kami berharap anak-anak muda juga tertarik datang ke sini untuk mengenal sejarah. Mudah-mudahan lewat media sosial dan pemberitaan, rumah ini semakin banyak dikenal,” ungkapnya.
Saat ini, Rumah Ong Boen Tjit juga terus dipromosikan sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Palembang.
Penulis: Marshanda
