Sumsel  

Mengenal Lebih Dekat Kain Sulam Angkinan, Kerajinan Khas Palembang dengan Benang Emas

Mengenal Lebih Dekat Kain Sulam Angkinan, Kerajinan Khas Palembang dengan Benang Emas (Foto: Marshanda Kabar Sumatra)

KabarSumatra.com— Selain songket dan jumputan, Sumatera Selatan khususnya Palembang memiliki warisan budaya tekstil yang tak kalah menarik, yaitu kain sulam angkinan.

Kain ini dikenal dengan ciri khas sulaman benang emas di atas kain beludru.

Sejarah Singkat Sulam Angkinan

Dilansir dari laporan pengabdian masyarakat Universitas Sriwijaya.

Dengan judul Penguatan Budaya Lokal Melalui Pemberdayaan Kelompok Pengrajin Sulam Angkinan Khas Kota Palembang Berbasis E-Commerce Universitas Sriwijaya yang disusun oleh Yunisvita dkk (2020).

Mengungkap jika sulam angkinan merupakan budaya lokal khas Kota Palembang yang telah ada sejak masa Kerajaan Sriwijaya.

Pada masa lampau, teknik sulam ini berkembang ketika perempuan di lingkungan kerajaan menjalani masa pingitan saat terjadi peperangan antarkerajaan.

Adapun motif-motif khas sulam angkinan yang diwariskan secara turun-temurun, diantaranya:

• Sulur-sulur
• Kuku kelabang
• Papan jari lima
• Burung
• Kembang-kembang
• Kipas lurus
• Kipas miring
• Biji pala
• Bintang

Setiap motif umumnya terinspirasi dari alam, flora, fauna, maupun simbol kehidupan masyarakat Palembang.

Pembuatan sulam angkinan masih banyak dilakukan secara manual menggunakan alat sederhana, yaitu:

  1. Jarum sulam berbagai ukuran.
  2. Gunting kain.
  3. Pemidangan atau bingkai sulam untuk menjaga kain tetap tegang.
  4. Pensil atau kapur kain untuk membuat pola.
  5. Penggaris dan alat ukur.
  6. Jarum pentul sebagai penahan pola.
  7. Alat pemasang payet dan manik-manik (jika diperlukan).

Adapun Bahan-bahan Pembuatan Sulam Angkinan, beberapa bahan utama yang digunakan antara lain:

• Kain beludru sebagai bahan dasar.
• Benang emas sebagai ciri khas utama.
• Benang sulam berwarna.
• Payet dan manik-manik sebagai hiasan tambahan.
• Kertas pola motif.
• Lem tekstil (untuk kebutuhan tertentu).

Seiring perkembangan zaman, kain angkinan tidak hanya dimanfaatkan sebagai pelengkap pakaian pengantin adat.

Melainkan juga diolah menjadi aneka kerajinan, seperti sarung bantal, suvenir, taplak meja, dan gandik.

Penggunaan kain beludru dan benang emas menjadi identitas utama sulam angkinan yang membedakannya dari kain tradisional lainnya.

Exit mobile version