KabarSumatra.com— Sebanyak 20 mahasiswa KKN Angkatan 120 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar audiensi dengan DPD (Dewan Pimpinan Daerah) II KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Bireuen di sekretariat setempat.
Pertemuan ini melahirkan sinergi strategis untuk mengelola sampah di dua desa binaan, yaitu Desa Alue Mangki, Kecamatan Gandapura dan Desa Uteun Gathom, Kecamatan Peusangan Selatan.
Diakui bersama, pemilahan sampah di Aceh masih menghadapi tantangan besar karena kesadaran masyarakat yang rendah.
Menjawab persoalan itu, Perbanusa Bireuen menginisiasi “Gerakan Pemilahan Sampah” sebagai terobosan untuk mengubah kebiasaan lama dan membangun ekosistem ekonomi dari limbah rumah tangga.
Baca Juga :
Ganas Lebak Cindo, Cara Pertamina Patra Niaga Sumbagsel Ajak Warga Sulap Sampah Jadi Tabungan
Peringati Hari Anak Nasional, Pertamina Foundation Kampanyekan Gerakan Jaga Bumi Sejak Dini
Ketua KNPI Bireuen, Abdul Halim, menegaskan bahwa kehadiran bank sampah induk bertujuan mengubah stigma masyarakat.
“Sampah itu biasanya dikenal sesuatu yang kotor, kehadiran bank sampah induk adalah untuk mengenalkan bahwa sampah itu bernilai,” ujarnya optimistis.
Sinergi ini juga melibatkan BSI Juang Lestari sebagai mitra utama.
Pemerintah daerah telah memberikan kewenangan kepada desa untuk mengelola sampah secara mandiri, namun tetap berkoordinasi dengan pemda.
Baca Juga :
Pemprov Aceh Resmi Luncurkan Dashboard Peta Aksi Penanggulangan Bencana
Karena itu, mahasiswa dan KNPI sepakat untuk segera bertemu dengan camat di kedua kecamatan agar program selaras dengan regulasi dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah setempat.
Program unggulan ini akan dipusatkan di Desa Alue Mangki sesuai arahan Perbanusa, dan diperluas ke Desa Uteun Gathom.
Pendampingan teknis dilakukan bersama Blangkasan, meliputi pelatihan pemilahan sampah organik dan anorganik serta pembuatan pupuk komposter yang bermanfaat bagi warga.
Puncak kolaborasi ini adalah peluncuran (launching) bank sampah unit yang melibatkan KKN, KNPI, Perbanusa, dan BSI Juang Lestari.
Bank sampah ini diharapkan menjadi pusat pengumpulan sekaligus pusat ekonomi baru bagi masyarakat yang aktif memilah sampah.
Dan yang tak kalah penting, seluruh pihak sepakat bahwa lahan konservasi dan bank sampah harus disiapkan exit program sejak awal.
Masyarakat desa akan dibekali keterampilan manajemen agar program tetap berjalan mandiri setelah masa KKN 45 hari berakhir, di bawah pendampingan KNPI dan BSI Juang Lestari.
