Kepri  

35 Hari Tanpa Hujan, BMKG Sebut Cuaca Kepri Alami Anomali

35 Hari Tanpa Hujan, BMKG Sebut Cuaca Kepri Alami Anomali
Ilustrasi panas matahari (Dok : Int).

KabarSumatra.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kondisi cuaca di Kepulauan Riau (Kepri) mengalami anomali setelah wilayah tersebut hampir 35 hari tidak diguyur hujan. Situasi ini membuat peluang hujan pada awal Ramadhan diperkirakan sangat minim.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan Djambak, menjelaskan bahwa pola cuaca di Kepri masih mengikuti tren Januari yang mencatat curah hujan sangat rendah.

“Artinya Ramadhan yang akan datang curah hujan rendah. Namun beberapa hari masih ada hujan sifatnya tidak terlalu deras,” kata Ramlan dalam keterangnnya, dilansir dari Antara, Selasa (10/2/2026).

Menurutnya, sepanjang Januari hingga awal Februari, Kepri mengalami periode hujan paling sedikit dalam setahun. Jika dihitung, sudah sekitar 35 hari wilayah tersebut nyaris tidak diguyur hujan.

Wilayah Batam sempat mengalami hujan singkat pada Jumat (6/2) dan Sabtu (7/2). Namun hujan tersebut hanya bersifat lokal dengan intensitas yang sangat rendah.

“Kalau sudah 35 hari tidak hujan bisa dikatakan sudah terjadi anomali. Harusnya di 35 itu, biasanya di bulan-bulan Januari masih cukup tinggi (hujan) di Januari, namun Januari tahun ini lebih rendah,” ujarnya.

Ramlan menjelaskan, kondisi tersebut mempengaruhi dinamika atmosfer regional di Asia Tenggara. Pada bulan Januari, terdapat bibit siklon tropis yang cukup kuat di wilayah selatan, terutama di Selatan Jawa dan Australia Utara.

Akibatnya, massa udara yang terbentuk dari angin muson barat tidak mampu mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Kepri.

“Kami menyebut awan (hujannya) bubar. Kan bisa dirasakan di bulan Januari ini kecepatan angin sangat kencang,” jelasnya.

Bibit siklon tersebut sempat melemah dan kemudian muncul pertumbuhan siklon tropis di wilayah utara, khususnya di Timur Filipina. Kondisi inilah yang memicu terjadinya hujan singkat di Kepri pada akhir pekan lalu.

Lebih lanjut, Ramlan mengungkapkan bahwa anomali cuaca ini berdampak pada ketersediaan sumber air bersih di Kepri, terutama di Kota Batam yang mengandalkan waduk dan air tadah hujan.

Berdasarkan hasil koordinasi BMKG dengan BP Batam dan Balai Besar Wilayah Sungai di Kepri, tercatat terjadi penurunan elevasi waduk air yang cukup signifikan.

“Tapi kondisi ini sudah dipastikan oleh BP Batam masih aman, kalau hujan tidak turun 15 hari ke depan mereka masih punya cadangan udara untuk didistribusikan ke masyarakat,” katanya.

Meski peluang hujan di awal Ramadhan atau pertengahan Februari relatif kecil, BMKG memprakirakan potensi hujan akan kembali meningkat pada bulan Maret, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Namun demikian, Ramlan mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem pada masa pelestarian musim.

“Yang perlu diantisipasi menjelang Idul Fitri ke musim hujan, antisipasi hujan tiba-tiba, hujan petir, sewaktu-waktu angin puting beliung. Ini yang harus diantisipasi,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *