KabarSumatra.com — Hantaman banjir bandang di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat tidak hanya menyisakan kerusakan, tapi juga sebuah misteri yang mengalir bersama arus: gelondongan kayu yang ikut hayut dan viral di media sosial. Pemandangan itu langsung memantik dugaan masyarakat tentang aktivitas pembukaan hutan di wilayah hulu yang selama ini luput dari sorotan.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Utara menilai potongan kayu tersebut kemungkinan besar berasal dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di kawasan Batang Toru. Beberapa nama yang muncul dalam diskusi publik antara lain PT Agincourt Resources, proyek PLTA Batang Toru, dan PT Toba Pulp Lestari (TPL).
Menurut WALHI, pola kerusakan yang tampak di lapangan konsisten dengan aktivitas industri yang menekan kawasan hutan Harangan Tapanuli, salah satu bentang alam tropis penting yang tersisa di provinsi itu.
KLHK Telusuri Jejak ke Delapan Perusahaan
Di sisi lain, pemerintah mulai membuka penyelidikan resmi. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menyebut ada delapan perusahaan yang diduga berkontribusi memperparah banjir besar di Sumut.
Perusahaan-perusahaan itu, kata Hanif, bergerak di sektor industri tanaman, pertambangan emas, hingga perkebunan sawit dan semuanya beroperasi di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru, wilayah rawan yang menjadi jalur utama aliran udara dari pegunungan.
“Batang Toru ini memang DAS jadi kotanya Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah ini ada di sisi lembahnya. Kemudian dia curam, sementara di curamnya itu ada aktivitas, saya mencatat ada delapan entitas,” katanya kepada wartawan, Selasa (2/12/2025).
Hanif menambahkan, dugaan tersebut diperkuat dengan analisis citra satelit. Deputi Penegakan Hukum KLHK telah melayangkan panggilan ke seluruh perusahaan terkait sejak Senin (1/12/2025).
Pemanggilan itu, kata dia, dilakukan untuk meminta keterangan mengenai asal-usul kayu-kayu yang terlihat hanyut bersama banjir.
“Kami minta mereka menjelaskan semua persoalannya termasuk menghadirkan citra satelit dengan resolusi sangat tinggi pada saat kejadian supaya bisa membuktikan ini kayu itu dari mana asalnya sehingga citra satelit itu harus dibawa ke kita untuk kita rumuskan,” tuturnya.
Harus Ada yang Bertanggung Jawab
Hanif menegaskan bahwa harus ada pihak yang bertanggung jawab atas bencana tersebut. Namun ia juga menyampaikan penyesalannya bahwa potensi risiko tidak terdeteksi lebih awal sehingga mengakibatkan jatuhnya korban.
“Bukan berarti kami tidak sedang berbela sungkawa, kami sangat berkeringat. Kami sangat menyesal tidak bisa memberitahukan hal ini lebih lanjut kepada pemerintah daerah sehingga menimbulkan korban jiwa,” katanya.
“Ini juga menandakan kita mendeteksi potensi bencana yang terjadi akibat perubahan iklim ini,” imbuhnya.












