KabarSumatra.com— Di tengah gempuran produk modern, aktivitas menganyam daun nipah masih bertahan.
Bahkan masih menjadi sumber penghasilan bagi sebagian warga di kawasan Lorong Saudagar Yucing, Kelurahan 3-4 Ulu, Palembang.
Kerajinan tradisional yang diwariskan turun-temurun ini tetap diminati masyarakat.
Bahkan dipasarkan ke sejumlah daerah di Sumatera Selatan.
Sehingga para perajin setempat terus mempertahankan proses pengolahannya secara tradisional sebagai mata pencaharian sehari-hari.
Hasil kerajinan daun nipah tersebut diolah menjadi berbagai produk.
Seperti tampah, wadah buah-buahan, piring tradisional, rokok pucuk, hingga berbagai jenis suvenir khas yang memiliki nilai ekonomi dan budaya.
Di tepian sungai Musi, tangan Dewi Susanti tampak cekatan mengolah daun nipah menjadi bahan anyaman.
Perempuan 39 tahun itu sehari-hari bekerja mengambil upahan bagian “ngocek” (mengupas) bagian lidi dari daun nipah untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Dewi mengatakan dirinya dibayar Rp500 per ikat daun nipah.
Pekerjaan tersebut dilakukan dari pagi hingga sore hari sebelum dijemur agar kualitas lidi lebih tahan lama.
“Biasanya kerja dari pagi sampai sore. Setelah dikocek, lidi dijemur dulu sekitar tiga hari kalau cuaca mendung,” ujar Dewi Susanti, Kamis (14/5/2026).
Menurutnya, proses penjemuran menjadi tahapan penting sebelum daun nipah dianyam menjadi berbagai kerajinan.
“Kalau tidak dijemur, bahan lidinya tidak tahan lama,” tambahnya.
Di tempat yang sama, Neliana (43), salah satu perajin anyaman daun nipah, mengatakan hasil kerajinan yang dibuatnya dijual dengan harga bervariasi.
Produk anyaman tersebut dipasarkan di Pasar Induk Palembang dengan harga mulai Rp14 ribu hingga Rp18 ribu per buah.
“Kalau harga jual di pasar itu ada yang Rp14 ribu, Rp15 ribu sampai Rp18 ribu,” kata Neliana.
Selain menjual hasil jadi, Neliana juga menerima sistem upahan untuk proses anyaman.
Upah pengerjaan dibedakan sesuai jenis anyaman yang dikerjakan.
“Kalau ngayam biasa itu Rp2 ribu, kalau langsung lilit bisa Rp2.300,” ujarnya.
Ia menuturkan, dalam sehari seorang pekerja dapat menyelesaikan sekitar 10 hingga 20 anyaman.
Kondisi ini tergantung tingkat kesulitan dan jumlah pekerja yang membantu.
Neliana sendiri telah menekuni pekerjaan tersebut selama kurang lebih 10 tahun.
“Ini usaha lama, kami hanya meneruskan. Sudah sekitar 9 sampai 10 tahun,” katanya.
Hasil anyaman daun nipah tersebut tidak hanya dipasarkan di Palembang.
Tetapi juga dikirim ke sejumlah daerah seperti Pemulutan, Kayuagung, Prabumulih hingga kawasan perairan lainnya di Sumatera Selatan.
Meski dikerjakan secara manual dan membutuhkan proses yang cukup panjang, para perajin tetap mempertahankan kerajinan anyaman daun nipah, sebagai mata pencaharian sekaligus warisan tradisi yang terus dijaga hingga sekarang.
Penulis: Marshanda












