Ragam  

Kenapa Palembang Dikenal dengan Pempek? Ini Sejarah Alasan di Baliknya

Kenapa Palembang Dikenal dengan Pempek? Ini Sejarah Alasan di Baliknya (Foto : Indonesia Travel)

KabarSumatra.com— Saat mendengar nama Palembang, banyak orang langsung teringat dengan pempek.

Kuliner berbahan dasar ikan dan tepung sagu ini telah menjadi ikon yang melekat kuat dengan ibu kota Provinsi Sumatera Selatan tersebut.

Bahkan, bagi wisatawan yang berkunjung ke Palembang, rasanya belum lengkap jika tidak mencicipi pempek.

Lalu, mengapa Palembang begitu identik dengan pempek?
Dilansir dari Wikipedia, pempek telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Palembang sejak ratusan tahun lalu.

Kuliner khas berbahan dasar ikan dan sagu ini diyakini mulai berkembang pada masa Kesultanan Palembang Darussalam sekitar abad ke-16 hingga ke-17.

Di mana sekitar abad ke-16 ada seorang imigran Tionghoa tua yang tinggal di dekat sungai Musi.

Melihat banyak ikan yang ditangkap oleh nelayan setempat.

Di iklim tropis Sumatera, sebelum penemuan teknologi pendinginan.

Sebagian besar sisa ikan yang tidak terjual ini membusuk dan terbuang sia-sia.

Masyarakat adat, bagaimanapun, memiliki pengetahuan dan teknik yang terbatas untuk mengolah ikan.

Selama periode itu, sebagian besar masyarakat adat hanya memanggang, menggoreng, atau merebus ikan mereka alih-alih menambahkan bahan lain untuk membuat hidangan baru.

Asal usul nama pempek

Nama pempek disebut berasal dari kata “apek”, yakni panggilan untuk pria keturunan Tionghoa yang menjajakan olahan ikan secara berkeliling.

Seiring berjalannya waktu, sebutan “pek-apek” kemudian berubah menjadi “empek-empek” dan akhirnya lebih dikenal dengan nama pempek seperti yang digunakan hingga saat ini.

Pempek sendiri dibuat dari campuran daging ikan yang dihaluskan, umumnya ikan tenggiri, gabus atau belida, kemudian dicampur dengan tepung sagu.

Adonan tersebut dibentuk menjadi berbagai jenis, seperti kapal selam, lenjer, adaan, kulit, hingga keriting.

Keunikan pempek tidak hanya terletak pada teksturnya yang kenyal, tetapi juga pada kuah pendampingnya yang disebut cuko.

Cuko merupakan saus berwarna hitam kecokelatan yang terbuat dari gula aren, cabai, bawang putih dan asam.

Perpaduan rasa manis, asam dan pedas inilah yang membuat pempek memiliki cita rasa khas yang sulit ditemukan di daerah lain.

Seiring perkembangan zaman, popularitas pempek terus meluas hingga ke berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara.

Banyak pelaku usaha asal Palembang yang membuka toko pempek di kota-kota besar.

Menjadikan kuliner ini sebagai duta budaya yang memperkenalkan Palembang kepada dunia.

Selain pempek, Palembang sebenarnya memiliki beragam kuliner khas lainnya.

Seperti tekwan, model, burgo, celimpungan, laksan hingga pindang.

Namun, popularitas pempek yang telah menembus pasar nasional membuat nama Palembang dan pempek seolah menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Karena itu, tidak mengherankan jika setiap kali seseorang menyebut Palembang, yang pertama kali terlintas di benak banyak orang adalah pempek.

Kuliner sederhana berbahan ikan ini telah berkembang menjadi simbol sejarah, budaya, sekaligus identitas kota yang berjuluk Bumi Sriwijaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *