KabarSumatra.com — Banjir besar yang melanda sejumlah kabupaten dan kota di Aceh meninggalkan luka mendalam bagi sektor pertanian. Ribuan hektare sawah rusak parah, tanaman gagal panen, dan kerugian membengkak hingga triliunan rupiah. Pemerintah Aceh pun bergerak cepat, mengajukan rehabilitasi lahan ke Kementerian Pertanian (Kementan) RI.
Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh mencatat, total 89.582 hektare (ha) lahan sawah terdampak banjir, menjadikannya salah satu bencana pertanian terparah dalam beberapa tahun terakhir di wilayah tersebut.
Kepala Distanbun Aceh, Ir. Cut Huzaimah, mengatakan berinvestasi saat ini fokus melakukan langkah darurat, mulai dari rehabilitasi lahan rusak hingga pengajuan bantuan benih bagi petani yang sawahnya masih memungkinkan untuk ditanami kembali.
Menurutnya, seluruh data kerusakan telah dilaporkan secara resmi kepada Kementerian Pertanian RI dan mendapat perhatian serius.
Untuk lahan yang masih dapat diselamatkan, Kementan disebut akan menyalurkan bantuan benih. Sementara bagi sawah yang rusak total akibat timbunan lumpur, pemerintah tengah mengupayakan program rehabilitasi lahan pascabencana.
“Untuk lahan yang tidak bisa ditanami lagi, kami sedang mengupayakan untuk rehabilitasi lahan sawah dampak bencana. Di sana ada program itu, yang sekaligus sawah-sawah yang terdampak tsunami dulu,” ungkapnya.
Namun, proses rehabilitasi dipastikan tidak instan. Tingkat kerusakan yang berat membuat sebagian lahan harus diperlakukan layaknya mencetak sawah baru.
“Proses rehabilitasi akan memakan waktu tergantung dari beratnya dampak. Kalau ini kita lihat sudah mirip dengan cetak sawah baru, karena dalam keadaan datar semua. Rehab rekon ini butuh waktu enam bulan,” pungkas Cut Huzaimah.
Puluhan Ribu Hektare Puso, Kerugian Tembus Rp1 Triliun
Kerusakan terparah terjadi pada komoditas padi sawah. Dari total luas sawah baku Aceh yang mencapai 202.811 ha, hampir setengahnya terdampak banjir.
Cut Huzaimah berkelimpahan, dari 89.582 ha sawah yang terdampak, hanya 62.517 ha yang masih berpotensi ditanami kembali. Sisanya, 27.065 ha, rusak total dan tidak bisa ditanami karena tertutup lumpur tebal.
“Dari 89.582 ha yang terkena, yang masih bisa ditanami padi itu 62.517 ha. Sementara itu, yang tidak bisa ditanami padi lagi ada 27.065 ha karena tertutup lumpur. Tidak ada lagi bantaran sawah sampai ketinggian 1 sampai 1,5 meter,” jelas Cut Huzaimah.
Kondisi ini membuat hampir seluruh tanaman padi yang terdampak mengalami puso. Menurutnya, banjir kali ini berbeda karena disertai turunnya lumpur tebal.
“Banjir kali ini memang puso semua yang ditanam karena dia diiringin oleh lumpur. Biasanya, bencana banjir itu airnya surut, kalau padi tergenang tiga hari itu tidak ada masalah. Kalau ini memang puso dan tidak mungkin terselamatkan lagi,” tegasnya.
Dari sisi ekonomi, kerugian yang ditimbulkan juga sangat besar. Estimasi sementara menunjukkan angka kerugian sawah sudah melampaui Rp1 triliun.
“Estimasi kerugian untuk sawah sudah sampai 1 triliun lebih, 1 triliun 164 miliar,” kata Cut Huzaimah.
Ia menambahkan, banyak petani yang seharusnya sudah memasuki masa panen, namun gagal total akibat hujan deras dan banjir yang datang bertubi-tubi.
Komoditas Lain Juga Terdampak
Tak hanya padi, sejumlah komoditas pertanian dan perkebunan lainnya ikut terdampak banjir. Distanbun Aceh mencatat:
- Jagung: 767 ha di empat kabupaten
- Hortikultura (cabai, bawang, kentang): 1.009 ha di 11 kabupaten/kota
- Perkebunan (kakao, kelapa, kopi): 13.023 ha
Total lahan pertanian dan perkebunan yang dilaporkan ke Posko Tanggap Darurat mencapai 14.799 ha (gabungan jagung dan komoditas lainnya).
Meski demikian, Cut Huzaimah mengingatkan bahwa data tersebut belum bersifat final dan masih berpotensi bertambah seiring proses pendataan di lapangan.












