Sumsel  

Pameran Fotografi ‘Human and Space’ Rekam Sisi Humanis dan Perjuangan Buruh di Palembang

Pameran Fotografi 'Human and Space' Rekam Sisi Humanis dan Perjuangan Buruh di Palembang" (Foto : Marshanda)

KabarSumatra.com— Pameran fotografi bertema Human and Space digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Khusus (UKMK) MIRROR UIN Raden Fatah Palembang.

Pameran ini menceritakan hiruk-pikuk kota, langkah para pekerja, hingga ruang-ruang yang setiap hari menjadi saksi aktivitas masyarakat

Melalui tema tersebut, para fotografer berusaha merekam bagaimana manusia membentuk dan dibentuk oleh ruang kota.

Ketua pelaksana, Hakiki Muhmuda, mahasiswa Ilmu Politik semester 2, mengatakan tema Human and Space menyoroti hubungan antara manusia dengan tempat yang mereka tempati.

“Tema ini berbicara tentang orang dan ruang tempat,” ujarnya.

Dalam konteks perkotaan, ruang bukan hanya gedung, jalan, dan jembatan.

Tetapi juga pasar, terminal, pabrik, dan sudut-sudut kota yang menjadi bagian dari kehidupan para pekerja.

Kota Palembang sendiri memiliki jumlah pekerja yang besar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sebanyak 744.367 penduduk berusia 15 tahun ke atas tercatat bekerja pada 2024.

Dari jumlah itu, 419.168 orang berstatus buruh, karyawan, atau pegawai.

Dengan jumlah tersebut menjadikan kelompok ini sebagai porsi terbesar tenaga kerja di kota tersebut.

Data tersebut memperlihatkan bahwa denyut kehidupan Kota Palembang ditopang oleh para pekerja yang setiap hari memenuhi ruang-ruang kota.

Aktivitas mereka menjadi bagian dari cerita yang divisualisasikan dalam pameran ini.

Sebanyak 15 hingga 25 fotografer turut ambil bagian dalam pameran.

Seluruhnya merupakan anggota generasi keempat (Gen 4) atau anggota baru UKM MIRROR.

Menurut Hakiki, kegiatan ini bertujuan menjadi wadah bagi anggota untuk memamerkan karya sekaligus menjalankan program kerja dari kepengurusan baru.

Salah satu penggarap, Naylavia Nur Salsabilla, mahasiswi Psikologi Islam semester 4, menampilkan karya yang menggambarkan bagaimana setiap individu tetap memiliki dunianya sendiri di tengah keramaian kota.

“Meskipun kita hidup berdampingan, setiap manusia punya dunianya sendiri,” katanya.

Dalam salah satu karyanya, Naylavia memotret orang-orang yang melintas di tangga.

Ia menonjolkan satu subjek dengan warna, sementara bagian lain dibuat abu-abu.

Teknik tersebut menggambarkan bahwa di tengah arus pergerakan kota.

Setiap orang termasuk para buruh dan pekerja tetap menjadi pusat dari cerita hidupnya masing-masing.

Pameran yang dipersiapkan selama sekitar 15 hari ini berlangsung satu hari, dari pagi hingga pukul 17.00 WIB.

Melalui Human and Space, UKM MIRROR ingin menunjukkan bahwa kota bukan sekadar lanskap fisik.

Melainkan ruang yang menyimpan kisah manusia, kerja, dan perjuangan sehari-hari.

“Harapannya, ke depan karya-karyanya semakin bagus dan MIRROR bisa menjadi lebih baik lagi,” jelas Hakiki.

Penulis: Marshanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *