Sumsel  

Asal Usul Lomba Perahu Bidar, Warisan Budaya Palembang yang Mendunia

Mengenal Asal-Usul Perahu Bidar, Tradisi Turun-Temurun Masyarakat Palembang yang Mendunia

Sejaran dan Asal Usul Lomba Perahu Bidar, Warisan Budaya Palembang yang Mendunia (Doc/Instagram festivalbidartradisional)

Kabar Sumatra.com— Setiap memasuki bulan Agustus, masyarakat Indonesia memiliki cara tersendiri untuk menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Berbagai perlombaan digelar untuk memeriahkan peringatan 17 Agustus, mulai dari panjat pinang, balap karung, hingga lomba makan kerupuk.

Namun di Kota Palembang, ada satu perlombaan yang selalu menjadi perhatian masyarakat dan telah menjadi bagian dari tradisi tahunan, yakni lomba perahu bidar di Sungai Musi.

Ribuan warga biasanya memadati tepian Sungai Musi, kawasan Benteng Kuto Besak, hingga Jembatan Ampera untuk menyaksikan perlombaan yang memadukan kecepatan, kekompakan, dan semangat kebersamaan tersebut.

Baca Juga :

Sejarah dan Keunikan Gulo Puan, Camilan Khas Sumatera Selatan yang Menggugah Selera

Sejarah dan Makna Filosofis Pakaian Adat Palembang, Aesan Gede dan Paksangko

Sejarah Perahu Bidar

Dikutip dari Wikipedia, bidar merupakan perahu cepat tradisional yang digunakan dalam perlombaan dayung dan biasanya ditampilkan pada berbagai momen penting,

Sejarah perahu bidar berkaitan erat dengan kondisi Palembang pada masa lampau.

Dahulu, Kota Palembang dikenal memiliki sekitar 108 anak sungai yang terhubung dengan Sungai Musi sebagai jalur utama transportasi.

Banyaknya jalur perairan membuat pemerintah Kesultanan Palembang Darussalam membutuhkan sarana transportasi yang cepat untuk menjaga keamanan wilayah.

Baca Juga :

Rumah Limas Palembang: Sejarah, Filosofi, dan Keunikan Arsitektur Rumah Adat Sumatera Selatan

Mengenal Tradisi Ngobeng, Rahasia Warga Palembang Rawat Kebersamaan Lewat Hidangan

Dari kebutuhan tersebut kemudian digunakan perahu-perahu yang mampu melaju dengan cepat di sungai dan menjadi cikal bakal perahu bidar yang dikenal saat ini.

Selain catatan sejarah, masyarakat Palembang juga mengenal kisah legenda yang berkaitan dengan asal-usul perlombaan bidar.

Legenda Putri Dayang Merindu

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, kata bidar berasal dari singkatan “biduk lancar”.

Tradisi ini dikaitkan dengan kisah Putri Dayang Merindu, seorang perempuan cantik yang hidup di kawasan hulu Palembang pada masa lampau.

Konon, sebuah perlombaan bidar digelar untuk membuktikan cinta dua pemuda kepada Putri Dayang Merindu.

Kedua peserta tersebut adalah Dewa Jaya dan Kemala Negara.

Namun perlombaan itu berakhir tragis karena keduanya meninggal dunia setelah menyelesaikan pertandingan.

Putri Dayang Merindu yang tidak sanggup menerima kenyataan tersebut kemudian mengakhiri hidupnya.

Sejak saat itu, masyarakat disebut-sebut menjadikan perlombaan bidar sebagai tradisi yang terus dilaksanakan setiap tahun untuk mengenang peristiwa tersebut.

Asal Usul Perlombaan Perahu Bidar

Perlombaan perahu bidar telah dikenal sejak tahun 1898 pada masa Kesultanan Palembang Darussalam.

Masyarakat tempo dulu menyebut perlombaan ini sebagai kenceran.

Awalnya, lomba tersebut digelar untuk memeriahkan perayaan ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina.

Selain itu, perlombaan bidar juga kerap menjadi bagian dari berbagai acara dan pesta yang diselenggarakan oleh pejabat kolonial Belanda.

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini tetap bertahan dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Palembang, khususnya yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Musi.

Hingga kini, masyarakat masih mengenal perlombaan tersebut dengan sebutan kenceran atau Festival Perahu Tradisional.

Nah pada peringatan hari jadi kota, perahu yang digunakan berukuran sekitar 12,7 meter dengan lebar 1,2 meter dan tinggi 60 sentimeter.

Satu perahu diawaki 24 orang yang terdiri dari 22 pendayung, satu petugas penimba air, dan satu jurangan, yakni orang yang bertugas memberi aba-aba sekaligus membangkitkan semangat para pendayung.

Sementara itu, pada perayaan Hari Kemerdekaan RI biasanya digunakan perahu bidar berukuran lebih besar.

Perahu tradisional ini memiliki panjang sekitar 29 meter, lebar 1,5 meter, dan tinggi 80 sentimeter.

Jumlah awaknya mencapai 57 orang yang terdiri dari 55 pendayung, satu jurangan, serta satu petugas penimba air.

Ukuran yang lebih besar membuat perlombaan bidar kemerdekaan menjadi salah satu atraksi paling meriah dan menarik perhatian masyarakat di Sungai Musi.