KabarSumatra.com — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memusatkan penanganan kesehatan masyarakat pascabanjir di Kabupaten Aceh Tamiang pada kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), diare, dan infeksi kulit. Ketiga penyakit tersebut tercatat sebagai keluhan terbanyak warga terdampak banjir, khususnya di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak.
Dokter Relawan Tim Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan, dr. Yulia Dewi Irawati, menjelaskan bahwa kondisi lingkungan pascabanjir menjadi faktor utama meningkatnya kasus penyakit tersebut. Sanitasi yang belum optimal serta kepadatan di lokasi pengungsian memperbesar risiko penularan penyakit.
“Selain penyakit infeksi, kami juga memberikan perhatian khusus pada kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, penyandang disabilitas, ODGJ, serta pasien penyakit tidak menular yang membutuhkan pengobatan,” jelas dr. Yulia, dikutip Selasa (13/1/2026).
Ia menambahkan, tim relawan juga memastikan pasien dengan penyakit tidak menular tetap mendapatkan layanan kesehatan secara berkelanjutan.
Penyakit seperti hipertensi, jantung, stroke, dan asma menjadi perhatian agar tidak mengalami perburukan kondisi di tengah situasi darurat.
Selain pelayanan medis, relawan Kemenkes turut memberikan edukasi kepada masyarakat terkait Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pemantauan sanitasi lingkungan, serta pencegahan gangguan kesehatan jiwa yang berpotensi muncul pascabencana.
Langkah ini dilakukan untuk mencegah terjadinya krisis kesehatan lanjutan di wilayah terdampak.
Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang diketahui berdampak serius terhadap layanan kesehatan, terutama di Desa Sekumur.
Sejumlah fasilitas kesehatan tingkat desa dilaporkan belum dapat beroperasi secara normal akibat kerusakan bangunan dan hilangnya peralatan medis.
“Ruangan pelayanan belum bisa digunakan sepenuhnya, alat-alat kesehatan banyak yang hayut, termasuk tempat tidur pasien, oksigen, dan infus. Kami sangat berharap ada perhatian agar pelayanan kesehatan bisa kembali berjalan,” ujar Bidan Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Sekumur, Siti Aisyah.
Untuk memperkuat respon krisis kesehatan, Kementerian Kesehatan mengerahkan Tim Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Batch II ke wilayah terdampak, termasuk desa-desa dengan akses terbatas.
Tim melakukan pelayanan kesehatan di posko pengungsian serta menjangkau langsung warga yang kesulitan mengakses layanan akibat keterbatasan transportasi dan kondisi geografis.
Selain memberikan pelayanan medis, tim relawan juga berkoordinasi dengan tenaga kesehatan setempat guna mendukung pemulihan layanan kesehatan dasar.
Kementerian Kesehatan memastikan penanganan krisis kesehatan pascabencana dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan hingga fasilitas kesehatan kembali pulih dan masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan secara optimal.












