KabarSumatra.com— Inspirasi dalam merintis bisnis bisa lahir dari mana saja.
Bagi Abin, seorang alumnus Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri), dorongan besar untuk membesarkan usaha pempek justru berakar dari kisah asmaranya.
Kini, kuliner khas Palembang yang ia kelola tidak hanya digemari di pasar domestik, tetapi juga telah berhasil menembus pasar internasional.
Langkah Abin di dunia wirausaha dimulai seusai menyelesaikan studi di perguruan tinggi.
Baca Juga :
Kenapa Palembang Dikenal dengan Pempek? Ini Sejarah Alasan di Baliknya
Bukan Cuma Pempek! Ini 10 Makanan Khas Palembang yang Wajib Kamu Coba
Enggan menjadi karyawan, ia mantap memilih jalur sebagai pengusaha.
Pada 27 Maret 2021, perjalanan bisnisnya diawali dengan menjual kerupuk ikan berbahan dasar kakap dan gabus milik tetangganya dengan merek “AA”.
“Awalnya coba-coba unggah status di WhatsApp, ternyata respons pembeli sangat tinggi,” kenang Abin.
Peluang bisnis pempek sendiri tercetus ketika sang kekasih (kini menjadi istrinya) yang berasal dari Tangerang datang berkunjung ke Palembang.
Baca Juga :
Panduan Lengkap Wisata Palembang, 10 Destinasi Ikonik yang Wajib Dikunjungi Sekali Seumur Hidup
Cara Bikin Maksuba Khas Palembang yang Super Legit dan Wangi, Bebas Bau Amis Telur
Setelah mencicipi sajian pempek dan tekwan, sang kekasih memberi dorongan agar Abin memproduksi dan menjual pempek sendiri.
“Bisa dikatakan usaha pempek ini berawal dari ‘kebucinan’ sebelum kami menikah,” kelakar Abin.
Ia kemudian mengeksplorasi bisnis tersebut dengan mengusung nama merek Pempek Abin Annisa, gabungan dari nama dirinya dan sang istri.
Pada tahap awal, ia menjadi reseller dengan memasarkan pempek buatan orang lain.
Penjualannya saat itu terbilang sukses hingga menyentuh angka 1.000 hingga 2.000 butir per hari.
Keberanian Meracik Resep Sendiri

Seiring melonjaknya angka permintaan, Abin mulai kewalahan.
Pemasok lamanya kerap kesulitan menjaga konsistensi kualitas produk.
Kendati tidak memiliki dasar keahlian memasak, Abin nekat untuk memproduksi pempek secara mandiri.
Bermitra dengan tetangganya yang mahir membuat pempek, Abin melakukan uji coba resep selama satu bulan.
Usaha eksperimen itu akhirnya membuahkan formula pempek dan cuko yang pas.
Awalnya, ia mencoba peruntungan dengan membuka gerai fisik di daerah Rawasari.
Namun, karena hasil penjualan secara langsung (offline) kurang memuaskan, ia memutuskan memindahkan fokus pemasarannya ke platform digital Shopee.
Mendobrak Pasar Global Lewat Strategi Digital
Melihat persaingan industri pempek di Palembang yang sudah sangat padat, Abin memutar otak.
Ia memilih mengalihkan target pasar ke luar daerah yang tingkat persaingannya relatif lebih longgar.
Menggunakan akun Shopee oleholehpalembangaa, ia mulai memanfaatkan fitur live streaming sejak 2021.
“Pasar luar kota masih sangat potensial. Kami buatkan format paket agar pembeli tidak bingung, mulai dari paket isi 10 hingga paket isi 50 pempek seharga Rp99 ribu,” jelasnya.
Strategi pemasaran digital tersebut membuahkan hasil manis. Selain kawasan Jabodetabek yang menjadi pangsa pasar utama, jangkauan pengirimannya terus meluas ke Ambon, Maluku, hingga Papua.
Bahkan, paket pempeknya kini secara berkala dikirim ke mancanegara, seperti Hongkong dan Jerman.
Saat ini, pusat kegiatan produksi Pempek Abin Annisa bertempat di Jalan Pangeran Ayin, Kompleks Taman Sari 2, Kabupaten Banyuasin.
Operasional harian berlangsung dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB dengan didukung oleh 8 orang pekerja.
Untuk menggaransi mutu rasa, Abin hanya menggunakan bahan baku pilihan berupa ikan tenggiri papan dan ikan gabus segar.
Dalam sebulan, dapur produksinya mampu menyerap hingga 1.300 kilogram ikan.
Pada hari biasa, usaha ini rata-rata memproses sekitar 40 resi pengiriman atau setara 150 bungkus.
Angka ini dapat melonjak hingga dua kali lipat pada momen promo tanggal cantik (double date) maupun bulan Ramadan, dengan total volume pengiriman mencapai 250 ribu bungkus.












