KabarSumatra.com — Bibit siklon kembali mengintai perairan selatan Indonesia. BMKG memperingatkan potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi pada periode November hingga Februari 2026.
Ancaman ini datang bersamaan dengan meningkatnya aktivitas atmosfer yang memicu hujan lebat, angin kencang, hingga gangguan pada aktivitas pelayaran dan penerbangan.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan periode November hingga Februari merupakan fase rawan.
“Periode November hingga Februari nanti, ini sekarang masuk Desember, bahwa ada ancaman terjadinya atau terbangkitnya bibit siklon di perairan selatan Indonesia,” ujarnya dalam keteragan resminya, dikutip Selasa (2/12/2025).
BMKG mencatat sejumlah wilayah perlu meningkatkan kewaspadaan, mulai Bengkulu, Sumatera bagian selatan, Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Papua Tengah hingga Papua Selatan.
Bibit siklon, menurut Teuku Faisal, dapat menimbulkan hujan ekstrem, angin kencang, petir, puting beliung, hujan es hingga jarak pandang terbatas.
Melihat dinamika atmosfer, BMKG memperkirakan curah hujan tinggi hingga sangat tinggi (300–500 mm per bulan) berpotensi terjadi di hampir seluruh wilayah Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian Sulawesi Selatan dan Papua Selatan pada 28 Desember–10 Januari.
Sementara itu, potensi banjir rob mengancam pesisir Jakarta, Banten dan Pantura Jawa Barat akibat fase perigee dan bulan purnama pada pertengahan Desember.
Untuk mendukung penanganan darurat, BMKG bersama BNPB menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di tiga bandara: Sultan Iskandar Muda (Aceh), Kualanamu (Sumut), dan Padang.
Operasi ini dilakukan untuk menurunkan hujan di wilayah tertentu atau mencegah hujan di zona rawan bencana melalui penyemai NACL atau Kalsium Oksida.
“OMC hanya bisa dilakukan bila gubernur menetapkan status darurat darurat. Tanpa itu, operasi tidak bisa dijalankan karena biaya dan risikonya sangat besar,” jelas Teuku Faisal.
BMKG menyatakan siklon tropis dapat diprediksi hingga delapan hari sebelumnya. Peringatan dini telah berulang kali disampaikan saat Siklon Senyar terjadi.
Pemerintah daerah diminta berkonsultasi aktif dengan Balai Besar BMKG, mengadakan rapat koordinasi bersama Forkopimda, dan memperkuat respons dini menjelang libur Natal dan Tahun Baru.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG membuka posko nasional di pelabuhan dan bandara serta menyiapkan berbagai aplikasi pendukung seperti radar cuaca, DWT untuk pemantauan jalan raya, dan Inawis untuk pemantauan laut.
Menteri Dalam Negeri juga mengingatkan bahwa kejadian banjir bandang dan longsor di Cilacap, Banjarnegara, serta bencana besar di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat menjadi peringatan nyata bahwa ancaman dapat muncul kapan saja.
“Kita belum tahu apa yang menghadang ke depan. Sama seperti yang terjadi di Sumatera Utara, kejadiannya sangat cepat dan kita mungkin kurang siap,” ujarnya.
Untuk periode minggu kedua Desember hingga awal Januari, BMKG memperkirakan aktivitas Monsoon Asia yang semakin aktif, anomali atmosfer Madden Julian Oscillation, gelombang Kelvin, dan Rossby Equator yang memicu hujan ekstrem, serta seruak dingin Siberia yang memperkuat intensitas hujan. Bibit siklon tropis juga diperkirakan tumbuh di wilayah selatan Indonesia.












