KabarSumatra.com— Di tepian Sungai Musi, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang menyimpan jejak panjang perjalanan Palembang. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II bukan hanya tempat menyimpan artefak, tetapi juga menjadi ruang yang menghidupkan kembali kisah masa lalu melalui pengalaman langsung para pengunjungnya.
Bangunan museum ini memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan runtuhnya kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam pada awal abad ke-19.
Setelah masa kejayaan kesultanan berakhir akibat tekanan kolonial, kawasan keraton mengalami perubahan fungsi dan sempat digunakan sebagai pusat administrasi pemerintahan kolonial Belanda.
Arsitektur bangunan yang kini menjadi museum memperlihatkan perpaduan gaya Eropa dengan adaptasi lokal, mencerminkan dinamika sejarah yang pernah terjadi di dalamnya. Nama museum ini diambil dari sosok Sultan Mahmud Badaruddin II, seorang tokoh penting yang dikenal karena keberaniannya dalam melawan kolonialisme.
Sosoknya tidak hanya menjadi simbol perlawanan, tetapi juga representasi identitas dan kebanggaan masyarakat Palembang. Seiring waktu, bangunan ini dialihfungsikan menjadi museum sebagai bentuk pelestarian sejarah.
Di dalamnya tersimpan berbagai koleksi, mulai dari peninggalan masa Sriwijaya, era kesultanan, hingga periode kolonial. Setiap sudut tempat bersejarah ini menghadirkan cerita yang memperkaya pemahaman pengunjung tentang perjalanan panjang kota ini.
Namun, nilai museum tidak hanya terletak pada koleksi yang dipamerkan, melainkan juga pada pengalaman pengunjung yang turut menghidupkan fungsinya sebagai ruang edukasi.
Hal ini tercermin dari kisah Yeni Anggreni (40), warga asli Palembang, yang untuk pertama kalinya mengunjungi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II bersama anak-anaknya. Ia mengaku sengaja datang untuk mengenalkan sejarah kepada mereka.
“Saya ini awalnya karena anak saya ikut lomba fashion show di sekolah. Setelah itu, sekalian jalan-jalan ke arah sini. Anak saya bilang, ‘Bun, kenapa nggak masuk ke Museum Badaruddin II saja?’ Akhirnya kami masuk,” ujarnya saat ditemui, Jumat (244/2026).
Kunjungan tersebut menjadi pengalaman pertama bagi keluarganya. Ia mengaku tidak menyangka bahwa museum tersebut menyimpan begitu banyak peninggalan bersejarah.
“Ternyata mereka senang sekali, karena memang sebelumnya belum pernah saya ajak ke sini. Jadi sekalian perkenalan supaya mereka tahu sejarah, khususnya tentang Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai pahlawan kita. Biar mereka bisa paham sedikit tentang sejarah Kota Palembang,” tambahnya.
Pengalaman ini menunjukkan bagaimana museum berperan sebagai sarana edukasi yang efektif, terutama bagi generasi muda.
Tidak hanya belajar melalui buku, anak-anak dapat melihat langsung bukti sejarah yang nyata, sehingga pemahaman mereka menjadi lebih konkret. Kesan positif juga dirasakan Yeni saat pertama kali memasuki ruang pamer museum.
“Saya sangat bahagia dan senang. Ternyata di dalam ruangan ini banyak sekali peninggalan bersejarah. Anak-anak sampai foto-foto dan bikin video,” ungkapnya.
Interaksi sosial di dalam museum juga menjadi nilai tambah tersendiri. Dalam kunjungannya, Yeni dan anak-anaknya bahkan sempat berinteraksi dengan mahasiswa yang tengah membuat konten video, menambah pengalaman yang lebih hidup dan menyenangkan.
Keberadaan museum ini melengkapi identitas Palembang sebagai kota bersejarah, berdampingan dengan ikon lain seperti Jembatan Ampera.
Namun lebih dari itu, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II menjadi ruang yang menjembatani masa lalu dan masa kini tidak hanya melalui benda, tetapi juga melalui pengalaman manusia yang datang dan belajar di dalamnya.
Dengan perpaduan antara nilai historis dan pengalaman langsung pengunjung, museum ini terus menunjukkan relevansinya di tengah modernisasi.
Ia bukan sekadar tempat menyimpan masa lalu, melainkan ruang hidup yang membangun kesadaran sejarah, memperkuat identitas budaya, dan menanamkan rasa bangga terhadap warisan daerah. (Marshanda)












