KabarSumatra.com — Jika sedang melintas di Palembang, ada satu bangunan yang pasti akan membuat mata Anda menoleh sejenak. Bukan karena kemegahannya semata, melainkan karena tampilannya yang unik.
Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo berdiri tegak dengan balutan warna merah menyala, emas, dan hijau palet.
Warna yang lebih identik dengan klenteng ketimbang tempat suci umat Islam pada umumnya.
Masjid ini adalah contoh nyata bagaimana seni bangunan bisa menjadi jembatan antarbudaya.
Anda akan melihat atap berundak khas arsitektur Tiongkok klasik yang bersanding manis dengan kubah dan aksen kaligrafi Arab.
Perpaduan unsur Tionghoa, Melayu, dan napas Islami ini menciptakan atmosfer yang unik.
Tampak seperti bangunan dari Negeri Tirai Bambu di luar
Namun tetap menghadirkan kekhusyukan masjid di dalamnya.
Berdirinya masjid ini bukan tanpa alasan historis yang kuat.
Nama “Cheng Ho” merujuk pada Laksamana Muhammad Cheng Ho (Zheng He).
Seorang pelaut Muslim asal Yunnan, Tiongkok, yang memimpin armada besar mengunjungi Nusantara pada abad ke-15.
Dalam catatan sejarah, Cheng Ho setidaknya pernah tiga kali mendarat di Palembang.
Selain membawa misi diplomatik dan perdagangan, ia juga memiliki andil besar dalam menumpas perompak yang meresahkan jalur perdagangan di sekitar Sungai Musi.
Kehadiran armadanya membawa pengaruh Islam yang signifikan bagi masyarakat pesisir.
Dilansir pada Masjid Nusantara, Pembangunan masjid ini sendiri digagas oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumatera Selatan bersama tokoh masyarakat setempat.
Mulai dibangun pada tahun 2003 di atas lahan hibah dari pemerintah daerah, masjid ini akhirnya diresmikan pada tahun 2006.
Dan hadir sebagai simbol penghormatan atas jejak dakwah damai sang Laksamana.
Saat ini, Masjid Cheng Ho telah bertransformasi menjadi ikon wisata religi di Sumatera Selatan.
Banyak pelancong datang bukan sekadar untuk menunaikan salat, tetapi juga mengagumi estetika bangunannya. Lebih dari itu, masjid ini adalah “ruang tamu” bagi keberagaman.
Berbagai kegiatan sosial dan keagamaan di sini seringkali melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang etnis.
Meskipun arsitekturnya kental dengan nuansa Tionghoa, fungsi utama bangunan ini tetaplah sebagai pusat aktivitas umat.
Berikut adalah beberapa fasilitas yang tersedia:
1.Ruang Utama Salat Dua Lantai: Lantai pertama digunakan untuk jemaah laki-laki, sementara dan perempuan dalam menunaikan sholat.
2.Dua Menara Simbolis: Masjid ini memiliki dua menara yang menyerupai pagoda.
Menara tersebut dinamakan Habluminallah dan Habluminannas (hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan manusia).
Tinggi menara mencapai 17 meter dengan 5 tingkat, yang menyimbolkan jumlah rakaat salat dan rukun Islam.
3.Gedung Serbaguna & Kantor: Terdapat ruangan yang sering digunakan untuk kegiatan sosial, pertemuan masyarakat, dan administrasi masjid.
4.Area Parkir & Taman: Area luar yang cukup luas sering dijadikan spot foto oleh wisatawan, terutama karena latar belakang bangunan yang ikonik dan bersih.
Detail Arsitektur yang Unik
Jika diperhatikan lebih dekat, ada beberapa detail “tersembunyi” yang membuat Masjid Cheng Ho Palembang istimewa:
•Ornamen Tanduk Kambing: Di bagian luar, terdapat detail hiasan khas Palembang berupa tanduk kambing, yang menandakan bahwa bangunan ini tetap berpijak pada nilai-nilai budaya lokal Sumatera Selatan.
•Sirkulasi Udara Alami: Masjid ini dirancang dengan jendela-jendela besar dan lubang angin di bagian atas pintu, sehingga udara di dalam tetap sejuk meski tanpa pendingin ruangan (AC).
•Sentuhan Warna: Warna merah (simbol kebahagiaan), kuning emas (simbol kemuliaan), dan hijau (simbol kedamaian dalam Islam) menyatu membentuk identitas visual yang tak terlupakan.
Mengapa Anda Harus Berkunjung?
Berkunjung ke sini bukan hanya soal mengabadikan foto yang estetik.
Ini adalah perjalanan untuk meresapi nilai sejarah dan pesan persatuan.
Sebuah bukti fisik bahwa di Palembang, keberagaman bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekayaan identitas yang membanggakan.












