Sumsel  

Lebih dari Aksesori, Inilah Filosofi Mendalam Tanjak dan Gandik Sumatera Selatan

Lebih dari Aksesori, Inilah Filosofi Mendalam Tanjak dan Gandik Sumatera Selatan (Foto: Chatgpt)

KabarSumatra.com— Tanjak dan gandik merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Sumatera Selatan yang memiliki nilai historis, sosial, dan filosofis.

Keduanya tidak hanya berfungsi sebagai penutup kepala, tetapi juga merepresentasikan identitas.
Serta sistem nilai yang berkembang dalam masyarakat Melayu, khususnya di wilayah Palembang dan sekitarnya.

Keberadaan tanjak dan gandik tidak dapat dilepaskan dari konteks kebudayaan Batanghari Sembilan, yang menjadi dasar pembentukan identitas masyarakat Sumatera Selatan.

Hal tersebut sebagaimana dilansir dalam Jurnal Kalpataru oleh Mardiana dkk (2020).
Jurnal tersebut menyebutkan kebudayaan Batanghari Sembilan merupakan identitas masyarakat Sumatera Selatan yang terbentuk dari proses sejarah yang panjang dan berlapis.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa setiap unsur budaya, termasuk busana tradisional, merupakan hasil dari dinamika sejarah yang berlangsung secara berkelanjutan.

Tanjak dikenal sebagai penutup kepala khas laki-laki Melayu yang terbuat dari kain, biasanya songket atau bahan sejenis yang dilipat dengan teknik tertentu.

Di Sumatera Selatan, tanjak kerap digunakan dalam berbagai acara adat, mulai dari pernikahan hingga upacara resmi.

Adapun makna yang terukir pada tanjak diantarannya:

1.Bentuk lipatan pada tanjak yang menjulang ke atas sering diartikan sebagai simbol kewibawaan dan kehormatan.

Sementara itu, arah lipatan juga dapat menunjukkan karakter, seperti ketegasan, kebijaksanaan, hingga kedewasaan seorang laki-laki.

2.Dari segi warna, tanjak biasanya menggunakan warna-warna yang tidak sembarangan.
Warna emas, identik dengan kemuliaan dan kebesaran,

3.Warna merah melambangkan keberanian.
Jika tanjak menjadi simbol bagi laki-laki, maka gandik hadir sebagai pelengkap keindahan perempuan dalam busana adat Sumatera Selatan.

Gandik merupakan hiasan kepala yang dikenakan di bagian dahi. Biasanya terbuat dari logam berwarna emas dengan ukiran yang khas.

Dalam penggunaannya, gandik sering terlihat dalam busana pengantin adat Palembang.
Khususnya dalam gaya Aesan Gede maupun Aesan Paksangkong.

Hiasan ini tidak hanya memperindah penampilan, tetapi juga memiliki makna simbolik yang dalam.
Berikut makna-makna yang tersirat pada gandik.

1.Ukiran pada gandik umumnya berbentuk flora atau motif khas Melayu yang melambangkan keindahan, kesuburan, dan kelembutan perempuan.

2.Bentuknya yang melingkar mengikuti garis dahi mencerminkan keselarasan dan keseimbangan dalam kehidupan.
3.Warna emas pada gandik juga bukan tanpa alasan dalam tradisi Melayu, emas melambangkan kemuliaan, kemakmuran, dan harapan akan kehidupan yang sejahtera.

Oleh karena itu, penggunaan gandik dalam pernikahan menjadi simbol doa, agar perempuan yang mengenakannya mendapatkan kehidupan yang baik dan penuh berkah. (Marshanda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *