Kabarsumatra.com— Semangat pelestarian budaya kembali digaungkan di Sumatera Selatan melalui peringatan Hari Tari Dunia 2026.
Kegiatan yang digagas oleh Komunitas Seni Tari (KASTA) Sumsel ini mengangkat tema “Gaung Gendrang Darussalam.”
Ketua Pelaksana kegiatan, Sayyid Khalid Assegaf, menjelaskan bahwa tema yang diusung bukan sekadar konsep artistik, melainkan refleksi mendalam atas identitas budaya dan spiritual masyarakat.
“Gaung merupakan manifestasi dari ekspresi jiwa dan kehidupan masyarakat. Sementara gendrang adalah tabuhan semangat yang mampu menggugah dan menyatukan,” ujarnya saat memberikan sambutan, Selasa, (28/4).
Ia menambahkan, istilah “Darussalam” dalam tema tersebut merujuk pada Palembang sebagai negeri yang menjunjung tinggi nilai kedamaian dan religiusitas.
Menurutnya, hal ini menjadi dasar berkembangnya seni tari di daerah tersebut.
“Darussalam mengingatkan kita pada Palembang sebagai negeri yang menjadi fondasi terbentuknya kota ini. Seni tari tumbuh dengan kuat, namun tetap menjunjung nilai kesantunan, kehalusan budi, dan nafas religius masyarakatnya,” kata Khalid.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa peringatan Hari Tari Dunia menjadi momentum penting.
Khususnya untuk memperkuat eksistensi seni tari sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sekadar pertunjukan semata.
Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Sumatera Selatan Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Pandji Tjahjanto, menyoroti pentingnya pengembangan sektor budaya sebagai bagian dari pembangunan daerah.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, posisi pembangunan Sumatera Selatan masih berada di bawah sejumlah daerah lain.
Seperti Bali dan Jawa Tengah, sehingga diperlukan upaya peningkatan di berbagai sektor, termasubudaya.
“Event budaya memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Semakin banyak kegiatan seni yang digelar, maka semakin besar pula peluang bagi para seniman dan pelaku ekonomi kreatif untuk berkembang,” ujarnya.
Pandji juga menekankan bahwa penguatan ekosistem budaya perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Termasuk melalui pembentukan dan pengembangan dewan kesenian di tingkat kabupaten dan kota.
“Kita ingin budaya tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari. Seni harus menjadi cerminan jati diri masyarakat Melayu yang terus diwariskan kepada generasi mendatang dengan penuh kebanggaan,” katanya.
Peringatan Hari Tari Dunia 2026 di Palembang ini diharapkan menjadi titik awal penguatan peran seni budaya dalam pembangunan daerah.
Sekaligus mempertegas identitas Sumatera Selatan sebagai salah satu pusat kebudayaan Melayu di Indonesia. (Marshanda)












