KabarSumatra.com— Kota Palembang genap berusia 1.343 tahun pada 17 Juni 2026.
Usia tersebut menjadikan Palembang sebagai salah satu kota tertua di Indonesia yang memiliki jejak sejarah panjang.
Mulai dari masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, hingga berkembang menjadi kota metropolitan modern di Sumatera Selatan.
Penetapan hari jadi Kota Palembang merujuk pada Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di kawasan Bukit Siguntang.
Prasasti tersebut bertanggal 16 Juni 682 Masehi atau 17 Juni 683 Masehi berdasarkan penyesuaian kalender Masehi yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Kota Palembang.
Prasasti Kedukan Bukit menceritakan perjalanan suci atau siddhayatra yang dilakukan oleh Dapunta Hyang bersama ribuan pengikutnya.
Peristiwa itu diyakini sebagai tonggak berdirinya Kerajaan Sriwijaya yang kemudian tumbuh menjadi salah satu kerajaan maritim terbesar di Nusantara.
Pada abad ke-7 hingga ke-13, Palembang menjadi pusat pemerintahan sekaligus jantung perdagangan Sriwijaya.
Letaknya yang strategis di tepian Sungai Musi menjadikan wilayah ini sebagai jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Nusantara dengan India, Tiongkok, hingga Timur Tengah.
Kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru dunia singgah di Palembang untuk melakukan aktivitas perdagangan, pertukaran budaya, serta penyebaran ilmu pengetahuan.
Kejayaan Sriwijaya pada masa itu menjadikan Palembang sebagai salah satu pusat peradaban penting di Asia Tenggara.
Asal Usul Nama Palembang
Selain dikenal sebagai kota tertua di Indonesia, Palembang juga memiliki sejarah panjang terkait asal-usul namanya.
Di lansir laman website pemerintahkota, Palembang berasal dari kata “pa” atau “pe” yang berarti tempat.
Serta “lembang” yang berarti tanah rendah atau wilayah yang sering digenangi air.
Masa Kesultanan Palembang Darussalam
Setelah masa kejayaan Sriwijaya berakhir, Palembang tetap berkembang sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan.
Pada abad ke-17 berdirilah Kesultanan Palembang Darussalam yang dipimpin oleh para sultan keturunan bangsawan Melayu.
Salah satu tokoh penting dalam sejarah Palembang adalah Sultan Mahmud Badaruddin II.
Ia dikenal sebagai pemimpin yang gigih melawan kolonial Belanda pada awal abad ke-19 dan menjadi simbol perjuangan rakyat Palembang dalam mempertahankan kedaulatan wilayahnya.
Memasuki era kemerdekaan Indonesia, Palembang terus berkembang menjadi ibu kota Provinsi Sumatera Selatan sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumatera bagian selatan.
Salah satu ikon kota yang paling dikenal hingga saat ini adalah Jembatan Ampera yang diresmikan pada 1965.
Jembatan yang membentang di atas Sungai Musi tersebut menjadi simbol kemajuan Palembang sekaligus penghubung kawasan Seberang Ulu dan Seberang Ilir.
Pada HUT ke-1.443 tahun, Pemerintah Kota Palembang mengusung tema “Palembang Berdaya, Berbudaya, dan Mendunia.
Mencerminkan semangat untuk terus mendorong kemajuan di berbagai sektor tanpa meninggalkan identitas budaya, nilai-nilai religius.
Dan warisan sejarah yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Kota Palembang sejak masa Sriwijaya hingga sekarang.
Sejak masa kemerdekaan hingga saat ini, Kota Palembang telah dipimpin oleh sejumlah wali kota yang berperan dalam pembangunan kota.
Berikut daftar Wali Kota Palembang yang pernah menjabat:
- Raden Hanan (1945–1947)
- Sudarman Ganda Subrata (1950–1954)
- Muhammad Ali Amin (1955–1960)
- Abdullah Kadir (1962–1968)
- Muhammad Rasyad Nawawi (1968–1970)
- RHA A. Rifai Tjek Yan (1970–1978)
- A. Dahlan (1978–1983)
- Kholil Aziz (1983–1993)
- Husni (1993–2003)
- Eddy Santana Putra (2003–2013)
- Romi Herton (2013–2014)
- Harnojoyo (2015–2023)
- Ratu Dewa (2025–sekarang)










