KabarSumatra.com— Gramedia melalui Gramedia Penerbit Utama (GPU) menutup rangkaian tur buku Ekspedisi Leiden 2020–1920 di Palembang dengan menghadirkan langsung penulis novel tersebut, Hasbunallah Haris.
Kegiatan yang dikemas dalam sesi Book Talk ini berlangsung di Gramedia Palembang Burlian, Minggu (23/8/2026) menjadi ruang bagi pembaca untuk mengenal lebih dekat novel yang memadukan sejarah, misteri, dan petualangan.
Novel Leiden 2020–1920 mengisahkan perjalanan Syamil, mahasiswa sejarah yang menelusuri jejak masa lalu melalui naskah berusia seratus tahun.
Petualangannya membawanya mengungkap sejarah kolonial, misteri harta karun, hingga berbagai peristiwa yang menunjukkan bahwa sejarah masih memiliki kaitan dengan kehidupan masa kini.
Baca Juga :
Wujud Kepedulian Pendidikan, Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Cetak Generasi Berkarakter
Hadir di Bumi Serasan Sekate, Wabup Muba Sebut Sekolah Rakyat Jadi Harapan Baru Pendidikan
Dalam diskusi tersebut, Hasbunallah Haris berbagi pengalaman mengenai proses riset dan penulisan novel yang menggabungkan sejarah kolonial dengan gaya penceritaan detektif.
Leiden 2020–1920 mengikuti kisah Syamil, mahasiswa sejarah yang secara tidak terduga terseret dalam perjalanan menelusuri jejak masa lalu.
Berawal dari pertemuannya dengan Maryati dan Kasman di Padang Panjang, Syamil menemukan potongan naskah berusia seratus tahun yang dicatat oleh Alex van der Meer, seorang mantan tentara Belanda.
Petunjuk dari naskah tersebut membawanya menyusuri perjalanan dari Sawahlunto pada 1920 hingga Leiden pada 2020, sekaligus mengungkap misteri mengenai harta karun lama yang tersembunyi di negerinya.
Baca Juga :
Rasakan Pengalaman Kerja Nyata di Telkomsel, Mahasiswa Bisa Ikut Program Virtuship
Bekali Generasi Muda, KKN Mekar Jeumpa Gelar Literasi Keuangan dan Investasi Syariah di Alue Mangki
Dalam proses pencariannya, Syamil harus berhadapan dengan berbagai rintangan dan tokoh yang tidak selalu dapat dipercaya.
Penelusuran tersebut membawanya menjelajah hutan rimba Sumatra, mencari keberadaan Suku Anak Dalam, hingga berhadapan dengan organisasi gelap yang mengancam perjalanannya.
Di balik berbagai petualangan tersebut, Syamil perlahan menemukan kesadaran bahwa sejarah kolonial bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi meninggalkan jejak yang masih berkaitan dengan kehidupan Indonesia hingga saat ini.
Novel ini juga berhasil meraih Juara II Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2023.
“Saya ingin mengajak pembaca untuk kembali melihat sejarah dengan rasa ingin tahu, sekaligus menyadari pentingnya menjaga cerita dan jejak masa lalu agar tidak hilang begitu saja,” ujar Haris.
Palembang menjadi kota terakhir dalam rangkaian Ekspedisi Leiden 2020–1920 setelah sebelumnya digelar di Jakarta dan Bandung.
Melalui kegiatan ini, Gramedia berharap dapat mempertemukan karya sastra dengan masyarakat sekaligus menumbuhkan minat pembaca terhadap sejarah Indonesia.
Hasbunallah Haris merupakan lulusan Sastra Arab Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang dan kini kembali ke kampus untuk mendalami bidang sejarah.
Fokusnya terhadap sejarah bermula dari penelitian filologi ke Sungai Pagu yang kemudian diwujudkan dalam bentuk novel fiksi sejarah.
Pengalaman tersebut turut membentuk perhatiannya terhadap pelestarian naskah-naskah yang terkubur atau dianggap sakral oleh masyarakat.
Di sela perkuliahan, Hasbunallah aktif dalam kegiatan diskusi sastra di Bukik Ase, Kota Padang, serta turut memprakarsai komunitas Kutub Sastra sejak 2024.












